hhshgsh

uygih

Selasa, 05 Maret 2013

modul efidemiologi d3 kebidanan



MODUL EPIDEMIOLOGI
KEBIDANAN-D3










Di susun oleh
Nugroho Susanto


















STIKES AHMAD YANI YOGYAKARTA TAHUN 2011/2012


PERTEMUAN KE-1

KONSEP-KONSEP/DASAR-DASAR EPIDEMIOLOGI







Oleh
Nugroho Susanto





KONSEP-KONSEP/DASAR-DASAR EPIDEMIOLOGI


1.    Definisi dan ruang lingkup epidemiologi
Definisi
Epidemiologi berasal dari Yunanai, epi berarti tentang, demos berarti rakyat dan logos berarti bicara atau ilmu.
Epidemiologi merupakan inti dari ilmu kesehatan masyarakat.
Epidemiologi merupakan studi yang mempelajari distribusi dan determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi, serta penerapanya untuk pengendalian masalah kesehatan (CDC, 2002). Yang utama dalam epidemiologi adalah distribusi penyakit dan determinan penyakit.
Dalam distribusi penyakit peranan Epidemiologi mempelajari pola penyebaran, kecenderungan dan dampak penyakit terhadap kesehatan populasi. Dalam determinan penyakit epidemiologi mempelajari faktor-faktor risiko dan faktor etiologi penyakit. Studi epidemiologi dirancang untuk mempelajari paparan, faktor risiko, kausa, dan faktor-faktor yang dihipotesiskan mempunyai hubungan dengan kejadian penyakit.
Lingkup epidemiologi
  1. Epidemiologi deskriptif
Epidemiologi deskriptif lebih mengarah pada hal pokok antara lain
Tempat, orang dan waktu. Keadaan ini merupakan hal informasi yang penting dalam epidemiologi. Informasi mengenai orang dapat menunjukan bahwa antar penyakit belum tentu mempunyai karakteristik orang yang sama untuk di tempati atau penyakit dapat berkembang biak. Sehinga akan lebih mudah untuk dipelajari ciri khas dari suatu penyakit. Waktu dapat menunjukan masa inkubasi dari penyakit tesebut dan tempat dapat menunjukan karakteristik dari serangan penyakit tersebut.

  1. Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik lebih menekankan pada dasar hubungan antara paparan atau karakteristik dengan penyebab dari penyakit itu sendiri. Keadaan ini memerlukan instrumen statistik untuk melihat apakah paparan dan efek berkaitan secara statistik.

2.    Tujuan Epidemiologi
Terdapat 4 tujuan pokok epidemiologi (Risser, 2002)
a.    Mendeskripsikan distribusi, kecenderungan, dan riwayat alamiah penyakit atau keadaan kesehatan populasi.
b.    Menjelaskan etiologi penyakit
c.    Meramalkan kejadian penyakit
d.    Mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan polulasi.

3.    Deskripsi Insiden dan Prevalen
Insiden merupakan kejadian kasus baru selama masa pengamatan.
Insiden.



Jumlah kasus baru pada tahun pengamatan
Insiden
=
-----------------------------------------------------


Jumlah populasi pengamatan


Prevalen


Jumlah kasus baru dan kasus lama pada tahun pengamatan
Prevalensi 
=
-----------------------------------------------------


Jumlah populasi pengamatan







Hubungan antara insiden dan prevalensi
Gambar tersebut memberi arah bahwa pada penyakit-penyakit yang masa inkubasinya cepat dapat memberi gambaran bahwa peningkatan insiden penyakit belum pasti akan diikuti oleh peningkatan angka prevalensi. Hal ini disebabkan adanya kasus yang cepat diikuti juga dengan hasil akhir dari penyakit tersebut (sembuh/mati). Pada penyakit-penyakit yang masa inkubasinya lama biasanya peningkatan angka insiden akan diikuti dengan peningkatan angka prevalensi.

4.    Pendekatan Epidemiologi
Epidemiologi mempelajari kausa penyakit dengan mengunakan penalaran epidemiologi (gordis, 2000) yang terdiri dari beberapa langkah antara lain:
a.    Epidemiologi biasanya dimulai dengan data deskriptif. Misal data yang dilaporkan dari jajaran departemen kesehatan. Data ini merupakan langkah awal sebagai bahan informasi untuk menentukan langkah selanjutnya. Laporan-laporan merupakan hal yang penting guna mendapatkan informasi yang lebih banyak mengenai penyakit dan dijadikan sebagai dasar awal untuk melihat permasalahan yang ada.
b.    Menentukan apakah terdapat hubungan antara sebuah faktor atau suatu karakteristik seseorang dan terjadinya penyakit yang menjadi permasalahan.
c.    Jika ditemukan hubungan yang signifikan, antara paparan dan penyakit maka pertanyaan yang muncul adalah apakah hubungan tersebut merupakan hubungan kausal (penyebab).

5.    Keberhasilan Epidemiologi
Beberapa tokoh yang menyumbang keberhasilan dalam penerapan ilmu epidemiologi antara lain:
a.    Epidemiologi sebelum masehi
Teori hipokrates: mengemukakan teori tentang sebab akibat dari penyakit, yang mengatakan bahwa: 1. Penyakit terjadi karena adanya kontak jasad hidup. 2. penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang.
b.    Karya John Graut
Grount mengunakan tabel hidup (life tabel) untuk mendeskripsikan mortalitas penduduk dalam bentuk angka absolut, persen dan probabilitas. Ia mencatat mortalitas lebih tinggi pada pria dari pada wanita.
c.    Revolusi Industri
Abda ke 18 terjadi revolusi industri yang mendorong kemajuan pesat ilmu pengetahuan termasuk epidemiologi. Pada abad ke 18 ditandai dengan meningkatnya kejadian infeksi usus, demam tifoid, dan tuberkulosis didaerah kumuh perkotaan. Dikawasan eropa muncul penyakit kuning dan kolera.
d.    Vaksinasi Jener
Pada akhir abda 18 400.000 orang meninggal karena cacar (smallpox). Eddward Jenner tertarik untuk menenmukan pendekatan pencegahan cacar yang lebih aman.


e.    Penyelidikan Epidemi Snow
John snow mengatakan bahwa perbaikan kesehatan masyarakat tidak mungin hanya dicapai dengan pendekatan kedokteran klinis pada pasien-pasien secara individual, melainkan harus dilakukan pendekatan secara komunitas luas.
f.     Revolusi mikrobiologi dan teori kuman
Pada abad 19 kemajuan pesat epidemiologi dengan ditemukan alat yang mampu mengintip struktur dan dinamika mikroba, disebut mikroskop. Sehingga ditemukan teori kuman.

Latihan

1.    Jelaskan ruang lingkup epidemiologi..?
2.    Sebutkan tujuan epidemiologi..?
3.    Bagaimana hubungan insiden dan prevalensi..?






MENGUKUR SEHAT SAKIT

1.    Definisi sehat sakit
Tahun 1948 WHO mendefinisikan kesehatan ” A state of complete physical, and social well-being and not merely the absence of disease or confirmity”. Dalam beberapa decade terakhir terjadi pergeseran pendefinisian “sakit” atau “sehat” dari para dokter kearah penilaian oleh manusia bersangkutan. Sen (2002) membedakan dua perspektif sehat: 1. Perspektif internal berbasis penilaian pasien dan 2. Perspektif eksternal berbasis pengamatan dokter, ahli patologi, dan profesi kesehatan pada umumnya. Penilaian internal dipengaruhi oleh pengalaman social, ekspektasi dan kesehadiaan pelayanan kesehatan.

2.    Frekuensi penyakit
RATE
Pada epidemiologi alat yang terpenting untuk mengukur frekuensi kejadian penyakit adalah rate, tetapi juga digunakan ratio dan proporsi. Ukuran-ukuran tersebut merupakan hasil dari bagi antara denumerator (penyebut) dan numerator (pembilang).
Rate merupakan perhitungan frekuensi kejadian penyakit selama periode waktu yang tertentu. Rate sering kali digunakan sebagai basis perbandingan untuk populasi yang berbeda, berbagai kelompok dimasyarakat (populasi), atau populasi yang sama pada waktu yang berbeda. Ukuran ini sebagai alat untuk menilai suatu factor etiologi (penyebab) dan membandingkan perkembangan terjadinya penyakit pada dua populasi yang berbeda. Untuk menetapkan kasus baru paling tidak harus dilakukan 2 kali pemeriksaan, pemeriksaan pertama untuk menetapkan siapa yang menderita penyakit, dan pemeriksaan kedua untuk menemukan siapa yang telah mengalami penyakit. Hal ini berarti kita harus memperhitungkan waktu onset. Waktu onset adalah waktu saat gejala penyakit pertama kali muncul, waktu onset tidak hanya suatu titik waktu. Pengamatan yang dilakukan terhadap suatu penyakit diperlukan perhitungan satuan orang waktu. Satuan orang waktu dapat berupa (person-years), orang-bulan (pearson-month). Satuan orang waktu digunakan untuk mencegah perbedaan risiko selama periode pengamatan yang dialami anggota populasi.

Rasio
Rasio merupakan perbandingan antar dua bilangan. Rasio mencerminkan hubungan antar dua bilangan, dalam bentuk hasil bagi, x:y atau x/y x k. Misalnya rasio pria dan wanita anak  balita di Kecamatan X pada tahun 2005 3.543:3.802 adalah 0,93 pria terhadap 1 wanita, atau 93 pria untuk setiap 100 wanita.
Misalkan


Proporsi
Proporsi merupakan bentuk khusus dari rasio, dimana didalamnya denomerator termasuk juga numerator dan hasilnya adalah nilai yang dinyatakan dalam bentuk prosentase. Proporsi penduduk di Kecamatan X adalah 22.683/44.792 x 100 = 56,6%.

Ilustrasi
Suatu pengamatan longitudinal dilakukan selama 1 tahun dengan 10 subjek, dan hasil pengamatan sebagai berikut:
1 orang diamati selama 8 tahun = 8 orang-tahun
2 orang diamati selama 5 tahun = 10 tahun pengamatan
3 orang diamati selama 2 tahun = 6 orang-tahun
4 orang diamati selama 6 bulan = 2 orang tahun

3.    Mengunakan informasi yang tersedia
Informasi kondisi kesehatan suatu masyarakat dapat dilihat berdasarkan data-data yang ada di dinas kesehatan setempat.
Mortalitas atau kematian (mati) merupakan keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yg bisa terjadi setiap saat setelah dilahirkan hidup. Mati hanya bisa terjadi jika di didahului dengan kelahiran hidup.
Ukuran – ukuran dalam mortalitas adalah sebagai berikut,
a.    Angka kematian kasar (Crude Death Rate = CDR)‏
Banyaknya kematian pada suatu periode (tahun) tertentu per 1000 penduduk tengah periode/tahun yang sama
D = jml kematian selama suatu periode (1 tahun)‏
P = jml penduduk pertengahan periode (tahun)‏
k = konstanta = 1000
Seperti fertilitas, ukuran ini juga sangat kasar karena membandingkan jumlah kematian dengan jumlah penduduk tengah tahun, pada hal kematian menurut umur cukup bervariasi.

b.    Angka kematian menurut Umur (Age Spedific Death Rate = ASDR)‏
Banyaknya kematian kelompok umur tertentu pada suatu periode (tahun) tertentu per 1000 penduduk kelompok umur yang sama, tengah periode/tahun yang sama

                Di
ASDRi = ----- x k
                Pi
Di = jumlah kematian kelompok umur i
Pi = jumlah penduduk kelompok umur i tengah tahun
k = konstanta = 1000
c.    Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate = IMR)‏
Banyaknya kematian bayi (anak usia kurang satu tahun) pada suatu periode (tahun) tertentu per 1000 kelahiran hidup periode/tahun yang sama
D<1 = jumlah kematian bayi selama satu periode/tahun
B = jumlah lahir hidup selama periode/tahun yg sama
k = konstanta = 1000
d.    Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate = MMR)‏
Banyaknya kematian ibu pada waktu hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama & tempat kelahiran, yg disebabkan krn kehamilannya atau pengelolaannya, bukan oleh sebab-sebab lain pada suatu periode (tahun) per 100.000 kelahiran hidup periode/tahun yang sama. Rumus:
Df = jml kematian ibu selama satu periode/tahun
B = jml lahir hidup selama periode/tahun yg sama
k = konstanta = 100.000

4.    Membandingkan kejadian penyakit
Ukuran yang biasa digunakan untuk membandingkan insiden adalah
Odd rasio dan resiko relatif.
Odd rasio merupakan perbandingan penyakit pada kelompok terpapar dan tidak terpapar.
Resiko relatif merupakan perbandingan kelompok terpapar yang menderita penyakit dan tidak menderita penyakit.
OR= a.d/bc
RR= a/a+c : d/b+d
Contoh
Suatu masyarakat mempunyai kebiasaan merokok dan masyarakat mempunyai kebiasaan tidak merokok. Pada suatu waktu dilakukan pengamata ternyata dari 100 orang yang diamati pada masyarakat perokok terdapat 30 orang dengan kejadian ca paru. Pada 100 orang tidak merokok didapatkan 10 orang menderita penyakit paru. Berapa OR dan RR?


Latihan
1.    Apa pengertian sehat sakit menurut WHO..?
2.    Sebutkan ukuran frekuensi penyakit dan jelaskan..?
3.    Suatu penelitian dilakukan di puskesmas A.. jika di puskesmas A terdapat 100 penderita jantung coroner yang diamati selama 4 tahun dan didapatkan 4 orang yang meninggal selama periode waktu itu. Berapa laju kecepatan insiden kematian penyakit jantung coroner tersebut..?


RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
Pengantar
Riwayat alamiah penyakit diketahui tidak hanya untuk memahami masing-masing penyakit, tetapi juga untuk menyusun strategi studi epidemiologi yaitu menentukan dari mana memulai, bagaimana, serta tujuan dan sasaran studi epdiemiologi. Tanpa mengenal riwayat alamiah penyakit, sesorang penelitia akan mengalami disorintasi tentang dimana ia berada, kemana mau pergi dan untuk tujuan apa.

Riwayat alamiah penyakit terdiri dari 4 fase (Gerstman, 1998; Rothman, 1981; Mausner dan Kramer, 1985) antara lain 1. Fase rentan, 2. Fase subklinis; 3. Fase Klinis; 4; Fase Penyembuhan, cacat dan kematian.

1.    Fase Rentan
Fase rentan adalah tahap berlangsungnya proses etiologi, dimana faktor ”penyebab pertama” untuk pertama kalinya bertemu dengan penjamu. Faktor penyebab utama yang disini adalah faktor risiko. Faktor risiko adalah faktor yang kehadirannya meningkatkan probabilitas kejadian penyakit sebelum fase ireversibilitas. Suatu faktor yang mempunyai hubungan kausal dapat dikatakan faktor risiko, meski hubungan itu tidak langsung atau belum diketahui mekanismenya.

2.    Fase Subklinis
Fase subklinis disebut juga fase pre simtomatis adalah tahap berlangsungnya proses perubahan patologis yang diakhiri dengan keadaan ireversibel yaitu manifestasi penyakit tak dapat dihindari lagi.

3.    Fase Klinis
Fase klinis merupakan tahap dimana perubahan patologis pada organ telah cukup banyak, sehingga tanda dan gejala penyakit mulai dapat dideteksi. Disini telah terjadi manifestasi klinis penyakit.

4.    Fase Penyembuhan, cacat dan kematian
Fase terminal merupakan tahap dimana mulai terlihat akibat dari penyakit: sembuh sepontan, sembuh dengan terapi, kambuh, perubahan berat ringanya penyakit, cacat atau kematian.

Pencegahan penyakit dibagi dalam 3 sekmen yaitu pencegahan penyakit primer, pencegahan penyakit skunder dan pencegahan penyakit tersier.
1.    Pencegahan primer
Mulai berhubungan dengan factor risiko, pada tahap ini belum menunjukan gejala dan tanda factor risiko.
2.    Pencegahan skunder
Mulai menunjukan gejala klinis dan tanda penyakit
3.    Pencegahan Tersier
Pencegahan pada tahap terminal penyakit (sembuh, cacat, mati)



Latihan
1.    Sebutkan tahapan dalam riwayat alamiah penyakit..?
2.    Sebutkan tahapan pencegahan penyakit..?


PERTEMUAN
EPIDEMIOLOGI KESEHATAN IBU DAN ANAK






A.  Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi 
1.    Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4 
a.        Pengertian 
a.    Ibu hamil K-4 adalah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan.
b.  Pelayanan adalah pelayanan/pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga kesehatan terampil (Dokter, Bidan, dan Perawat). 
b.        Definisi Operasional
Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4 adalah cakupan Ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal 4 kali sesuai dengan st├índar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.         Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
Cakupan kunjungan         =
Ibu Hamil K4
Jumlah Kunjungan Ibu Hamil K4
x 100 %
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun
 2)      Pembilang
Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai standar minimal 4 kali di satu wilayah kerja, pada kurun waktu tertentu.
Perkiraan ibu hamil di wilayah kerja yang sama dapat dihitung dengan formula:
1,1 x CBR x Jumlah penduduk di wilayah kerja. 
3)      Penyebut
Jumlah seluruh ibu hamil di satu wilayah kerja yang sama dalam kurun waktu yang sama. 
4)      Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan




Jumlah Penduduk 500.000, Angka Kelahiran Kasar (CBR) 2,3 %. Hasil pelayanan antenatal  K4 =  12.000  Bumil Januari-Desember tahun 2003, Maka :  Cakupan K4 adalah =     
Jml kunjungan ibu hamil K4                         X  100%
 Jml sasaran ibu hamil dalam satu tahun
        
       12.000                  X  100% = 94,86%
 1,1 x 2,3% x 500.000 
d.        Sumber Data
SIMPUS dan SIRS termasuk pelayanan yang dilakukan oleh swasta. 
e.         Rujukan
1)     Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,;
2)     Standar Pelayanan Kebidanan (SPK);
3)     Pelayanan Kebidanan Dasar;
4)     PWS – KIA. 
f.     Target
§         Target 2005: 78 % 
§         Target 2010: 95 % 
g.        Langkah Kegiatan
1)      Pendataan Bumil;
2)     Pembuatan kantong persalinan;
3)      Pelayanan Antenatal;
4)      Pencatatan  dan Pelaporan;
5)      Monitoring dan Evaluasi.
 
2.    Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan 
a.      Pengertian
1)   Pertolongan persalinan adalah persentase ibu bersalin di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang mendapatkan pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
2)   Kompetensi kebidanan adalah  keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dalam bidang pelayanan kebidanan (Dokter dan Bidan). 
b.      Definisi Operasional
Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan adalah cakupan Ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
   Cakupan pertolongan persalinan oleh Bidan/Tenaga Kesehatan    =
Jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn)
 x 100%
Jml seluruh sasaran persalinan dalam satu tahun
2)      Pembilang
Jumlah ibu bersalin di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu, yang persalinannya memperoleh pertolongan dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. 
3)      Penyebut
Jumlah ibu bersalin di satu wilayah kerja yang sama pada kurun waktu yang sama. 
4)    Ukuran/Konstanta
 Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah Penduduk 500.000, Angka Kelahiran Kasar (CBR) 2,3 %. Hasil cakupan Pn =  10.500  Ibu bersalin (Bulin) Januari- Desember tahun 2003,
Maka : 
Cakupan Pn adalah = Jml persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn)    X 100%                                         Jml  seluruh sasaran persalinan dalam satu tahun
                                                              10.500                  X  100%  =  86,96%
                                               1,05 x 2,3% x 500.000 
d.      Sumber Data
SIMPUS dan SIRS termasuk pelayanan yang dilakukan oleh swasta.
e.      Rujukan
1)   Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal;
2)   Standar Pelayanan Kebidanan (SPK);
3)   Pelayanan Kebidanan Dasar;
4)   PWS – KIA;
5)   Pedoman Asuhan Persalinan Normal/ APN. 
f.        Target
§     Target 2005: 77 %
§     Target 2010: 90% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Pelayanan persalinan;
2)      Perawatan nifas;
3)      Monitoring dan Evaluasi.
 
3.    Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk 
a.      Pengertian 
1) Risti/Komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
2)    Risti/komplikasi kebidanan meliputi: (Hb < 8 g%, Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, Diastole > 90 mmHg, Oedema nyata, eklamsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, Letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu,  letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur.
3)  Bumil Risti / komplikasi yang dirujuk adalah Bumil Risti / Komplikasi yang ditemukan untuk mendapat pertolongan pertama dan rujukan oleh tenaga kesehatan. 
b.      Definisi Operasional
Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk  adalah Ibu hamil Risiko tinggi/komplikasi yang dirujuk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus 
Ibu hamil risti/komplikasi   =  yang  dirujuk    
   Jumlah Bumil Risti/Komplikasi ditemukan
 x 100%
Jml seluruh sasaran Bumil risti/komplikasi
 2)      Pembilang
Jumlah ibu hamil risiko tinggi/komplikasi yang ditemukan/ dideteksi  di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Jumlah ibu hamil risiko tinggi/komplikasi yang ada di wilayah kerja pada kurun waktu yang sama (20% total ibu hamil).
Perhitungan perkiraan ibu hamil dapat dilihat pada indikator cakupan kunjungan ibu hamil K4. 
4)      Ukuran/Konstanta
 Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah Penduduk 500.000, Angka Kelahiran Kasar (CBR) 2,3%.  Hasil cakupan ibu hamil Risti/komplikasi =  2250  Januari - Desember tahun 2003, maka:
Cakupan  Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk adalah : 
            Jml Cak Bumil Risti/komplikasi yg ditemukan x 100%
            Jml seluruh sasaran Bumil Risti/Komplikasi 
                        2250                              X  100% = 88,93%.
 20% x ( 1,1 x 2,3% x 500.000) 
d.      Sumber Data
1)   SIMPUS dan SIRS termasuk pelayanan yang dilakukan oleh swasta;
2)   Laporan AMP. 
e.      Rujukan
1)     Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal;
2)     Standar Pelayanan Kebidanan (SPK);
3)     Pelayanan Kebidanan Dasar;
4)     PWS – KIA;
5)     Pedoman Asuhan Persalinan Normal/ APN;
6)     Pedoman AMP; 
f.        Target
§    Target 2005:  25 %
§    Target 2010: 100% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Persiapan Pelayanan Antenatal;
2)      Pelayanan ANC;
3)      Pemantauan  & Evaluasi ;
4)      Persiapan Pelayanan Pertolongan Persalinan;
5)      Pemantauan  & Evaluasi;
6)      Persiapan Pendeteksian Bumil Risti/Komplikasi;
7)      Deteksi Bumil Risti/Komplikasi;
8)      Pemantauan  & Evaluasi.
 
4.  Cakupan Kunjungan Neonatus
b.      Pengertian 
1)                         1)  Cakupan Kunjungan Neonatus (KN) adalah pelayanan kesehatan kepada bayi
                            umur 0-28 hari di sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui
                            kunjungan rumah.
2)                     2)     Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan
                           resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan
                           infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi);
                           pemberian vitamin K; Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM); dan penyuluhan
                           perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA. 
                        3)   Setiap neonatus memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali yaitu 1 kali pada
                        umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari.  
c.       Definisi Operasional
Cakupan Kunjungan Neonatus adalah cakupan neonatus yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan, Perawat yang memilki kompetensi klinis kesehatan neonatal, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
d.      Cara Perhitungan/Rumus 
1)  Rumus
Cakupan KN =
Jumlah KN yang ditangani sesuai standar
 x 100%
Seluruh bayi lahir hidup
2)  Pembilang
Jumlah neonatus yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)  Penyebut
Seluruh bayi lahir hidup di satu wilayah kerja pada kurun waktu sama. Jika tidak ada data dapat digunakan angka estimasi jumlah bayi lahir hidup berdasarkan data BPS atau perhitungan CBR dikalikan jumlah penduduk. 
4)  Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)  Contoh Perhitungan
·    Ada data jumlah bayi lahir di desa A.
Jumlah pendataan seluruh bayi lahir di desa A tahun 2003: 75 bayi.
Jumlah KN yang ditangani sesuai standar sebanyak 2 kali oleh Bidan AA tahun 2003: 55 bayi.
Cakupan KN:  55/75 x 100 % = 73,33 % 
·    Tidak ada data jumlah bayi lahir hidup di Kab.
Jumlah penduduk Kab. B tahun 2003: 300.000 jiwa.
CBR Kab. B tahun 2003: 2.3%
Rekapitulasi jumlah KN yang ditangani  Dokter, Bidan, Perawat  sesuai standar (berdasarkan laporan puskesmas) di Kab B tahun 2003: 4200.

Estimasi jumlah lahir hidup: 2.3% x 300.000= 6.900
Cakupan KN: 4.200 / 6.900 x 100 %  =  60,87 % 
e.      Sumber Data
SIMPUS, SIRS dan Klinik. 
f.        Rujukan
1)      Modul Pelatihan Resusitasi;
2)      Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial;
3)      Modul Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM);
4)      Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). 
g.      Target
§         Target 2005: 65 %
§         Target 2010: 90% 
h.       Langkah Kegiatan
1)   Pelatihan klinis kesehatan neonatal meliputi resusitasi, neonatal esensial, MTBM, pemberian vitamin K; dan penggunaan Buku KIA; 
2)      Pemantauan pasca pelatihan resusitasi dan MTBM;
3)      Pelayanan kunjungan neonatus di dalam gedung dan luar gedung;
4)      Pelayanan rujukan neonatus;
5)      Pembahasan audit kesakitan dan kematian neonatus.
 
5.  Cakupan Kunjungan Bayi 
a.      Pengertian 
1)   Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 1-12 bulan di sarana pelayanan kesehatan maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya, melalui kunjungan petugas.
2)   Pelayanan kesehatan tersebut meliputi deteksi dini kelainan tumbuh kembang bayi (DDTK), stimulasi perkembangan bayi, MTBM, manajemen terpadu balita sakit (MTBS), dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA yang diberikan oleh dokter, bidan dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan bayi.
3)   Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada umur 1-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali pada umur 9-12 bulan.  
b.      Definisi Operasional
Cakupan Kunjungan Bayi  adalah cakupan bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan, Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan bayi, paling sedikit 4 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
    Cakupan        kunjungan bayi  =
 Jumlah bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar
x 100%
Seluruh bayi lahir hidup

                   2)      Pembilang
Jumlah bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 4 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Seluruh bayi lahir hidup di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Jika tidak ada data dapat digunakan angka estimasi jumlah bayi lahir hidup berdasarkan data BPS atau perhitungan CBR dikalikan jumlah penduduk. 
4)      Ukuran/Konstanta
Prosentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah seluruh bayi lahir di desa A tahun 2003: 75 bayi.
Jumlah bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar, 4 kali oleh bidan AA: 40. C
akupan  kunjungan bayi =  40 / 75 x 100 % = 53,33  %. 
Jumlah penduduk Kabupaten B:  270.000 jiwa.
CBR: 2.3%

Rekapitulasi jumlah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar 4 kali, se kabupaten B: 5000
Estimasi jumlah lahir hidup: 2.3% x 270.000 = 6.210

Cakupan kunjungan bayi = 5.000 / 6.210 =  80,52 %. 
d.       Sumber Data
SIMPUS, SIRS dan Klinik. 
e.       Rujukan
1)      Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS);
2)      Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (DDTK);
3)      Buku KIA. 
f.        Target
§         Target 2005: 65%
§         Target 2010: 90% 
g.       Langkah Kegiatan
1)      Peningkatan kompetensi klinis kesehatan bayi meliputi DDTK, stimulasi  perkembangan bayi dan MTBS;
2)      Pemantauan pasca pelatihan MTBS dan DDTK;
3)      Pelayanan kunjungan bayi di dalam gedung dan luar gedung;
4)      Pelayanan rujukan;
5)      Pembahasan audit kematian dan kesakitan bayi.
 
6.  Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR yang Ditangani 
a.      Pengertian 
1)   Cakupan bayi berat lahir rendah adalah cakupan bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir.
2) Penanganan BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, talipusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu bayi muda (MTBM); penanganan penyulit/komplikasi/masalah pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA.
3)  Setiap BBLR memperoleh pelayanan kesehatan yang diberikan di sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui kunjungan rumah oleh Dokter, Bidan dan Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR.
b.      Definisi Operasional
Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR yang Ditangani adalah cakupan BBLR yang ditangani sesuai standar oleh Dokter, Bidan dan Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
 Cakupan   =   
 BBLR    
 Jumlah BBLR ditangani sesuai dengan standar
 x 100 %
Jumlah BBLR di wilayah kerja


2)      Pembilang
Jumlah kunjungan BBLR yang ditangani sesuai  dengan standar oleh tenaga kesehatan, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Jumlah BBLR di wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. 
4)      Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah BBLR yang ditangani bidan MM tahun 2003: 6 bayi.
Jumlah seluruh BBLR di desa M tahun 2003: 9 bayi.
Cakupan BBLR ditangani = 6 / 9 x 100 %  =  67 %. 
d.      Sumber Data
SIMPUS, SIRS dan Klinik. 
e.      Rujukan
1)     Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial;
2)     Modul Manajemen Terpadu balita Sakit;
3)     Modul Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM);
4)     Buku KIA. 
f.    Target
§         Target 2005: 25%
§         Target 2010: 100% 
g.      Langkah Kegiatan
1)   Pelatihan klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR; 
2)   Pemantauan pasca pelatihan kesehatan neonatal dan penanganan BBLR;
3)   Pemantauan BBLR ditangani melalui kunjungan neonatal (KN) di dalam gedung dan luar gedung;
4)   Pelayanan rujukan BBLR;
5)   Pembahasan audit kematian BBLR.
 
        B. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah 
1.      Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah 
a.      Pengertian 
1)      Anak balita dan prasekolah adalah anak umur 1 sampai dengan 6 tahun.
2)      Pelayanan DDTK Anak balita dan Prasekolah meliputi kegiatan deteksi dini masalah kesehatan anak menggunakan MTBS, monitoring pertumbuhan menggunakan Buku KIA/KMS dan pemantauan  perkembangan (motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian); penanganan penyakit sesuai MTBS, penanganan masalah pertumbuhan, stimulasi perkembangan anak balita dan prasekolah; pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu.
3)      Setiap anak umur 1 sampai dengan 6 tahun memperoleh pelayanan DDTK minimal 2 kali per tahun (setiap 6 bulan sekali). Pelayanan DDTK diberikan di dalam gedung maupun di luar gedung (di posyandu, Taman Kanak-kanak, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya) oleh  Dokter, Bidan dan Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan anak, DDTK, MTBM dan MTBS. 
b.      Definisi Operasional
Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah adalah cakupan anak umur 1-6 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuh kembangnya sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan dan Perawat, paling sedikit 2 kali per tahun, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1) Rumus
                          Cakupan DDTK =
Jumlah anak umur 1-6 tahun yang di DDTK
sesuai dengan standar, paling sedikit 2 kali
 x 100 %
Jumlah balita di satu wilayah kerja




2) Pembilang
Jumlah anak umur 1-6 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuhkembangnya oleh tenaga kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)  Penyebut
Jumlah balita di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Jika tidak ada data dapat digunakan angka estimasi jumlah balita sekitar 10% dari jumlah penduduk. 
4)   Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)   Contoh Perhitungan
Jumlah anak balita  umur 1-6 tahun memperoleh pelayanan DDTK sesuai standar oleh tenaga kesehatan paling sedikit 2 kali di Kabupaten A= 9.000.
Seluruh balita = 25.000
Cakupan DDTK anak balita dan prasekolah = 9.000 / 27.000 x 100 % = 33,33 % 
d.      Sumber Data
SIMPUS, praktek swasta. 
e.      Rujukan
1)      Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS);
2)      Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (DDTK);
3)      Buku KIA. 
f.        Target
§         Target 2005: 65%
§         Target 2010: 95% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Pelatihan kesehatan klinis kesehatan balita, MTBS dan DDTK;
2)      Pemantauan pasca pelatihan;
3)      Pelayanan kunjungan anak balita dan prasekolah, di dalam gedung dan luar gedung;
4)      Pelayanan rujukan.
 
2.      Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau
  tenaga terlatih/ guru UKS/Dokter Kecil 
a.      Pengertian 
1)   Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektor dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah.
2) Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan dokter kecil, penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan).
3)   Tenaga Kesehatan adalah tenaga medis, keperawatan atau petugas Puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/UKGS.
4)   Guru UKS adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS.
5)    Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 4 dan 5 SD dan setingkat yang telah mendapatkan pelatihan dokter kecil. 
b.      Definisi Operasional
Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah cakupan siswa kelas 1 SD dan setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus 
 Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD

=
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih
 x 100 %
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat
                       2)      Pembilang
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih  (guru UKS/ dokter kecil) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat di wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. 
4)      Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat di Kabupaten X pada tahun 2003 adalah 12.000 orang.
Jumlah murid kelas 1 SD dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan 9.000 orang
Cakupan = 9.000/12.000 x 100 % = 75 %. 
d.      Sumber Data
1)      Catatan dan pelaporan hasil penjaringan kesehatan (Laporan kegiatan UKS);
2)      Data Diknas/BPS setempat. 
e.      Rujukan
1)      Buku Pedoman UKS untuk Sekolah Dasar;
2)      Buku Pedoman Penjaringan Kesehatan;
3)      Buku Pedoman UKGS murid Sekolah Dasar. 
f.        Target
§         Target 2005: 75%
§         Target 2010: 100% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Pengadaan dan Pemeliharaan UKS Kit , UKGS Kit;
2)      Perencanaan kebutuhan anggaran, logistik dan pelatihan;
3)      Pelatihan petugas, guru UKS / UKGS dan dokter kecil;
4)      Pelayanan Kesehatan;
5)      Pencatatan dan Pelaporan. 

         3.  Cakupan  Pemeriksaan  Kesehatan  Siswa TK,  SLTP,  SLTA  dan  setingkat  oleh  tenaga
              kesehatan atau tenaga terlatih/ guru uks/ dokter kecil ( 80%)
 
a.      Pengertian 
1)      Pemeriksaan kesehatan siswa adalah pemeriksaan kesehatan umum (TB, BB, Kulit, ketajaman mata, pendengaran, gigi mulut) yang dilaksanakan oleh nakes bagi siswa TK, SLP, SLTA atau setingkat.
2)      Tenaga kesehatan adalah tenaga medis, keperawatan atau petugas puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/ UKDS.
3)      Guru UKS adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS.
4)      Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang berasal dari murid kelas IV dan V SD dan setingkat yang mendapat pelatihan dokter kecil. 
b.   Definisi Operasional
Persentase siswa TK, SLTP, SLTA, dan Setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/ dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan paling sedikit 2 x setahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. 
c.   Cara Perhitungan
1. Rumus: 
Jumlah murid TK, SLTP, SLTA yang setingkat diperiksa 2 x setahun x 100%
    Jumlah sasaran siswa TK, SLTP, SLTA dan setingkat  
2. Pembilang
Jumlah murid TK, SLTP, SLTA yang setingkat diperiksa 2 x setahun di satu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. 
3. Penyebut
Jumlah sasaran siswa TK, SLTP, SLTA dan setingkat di satu wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama. 
d. Sumber data
Laporan Puskesmas. 
e. Rujukan.
- Buku Pedoman UKS dari Depkes Tahun 1999
- Buku Pedoman Diknas Tahun 1999.
- Renstra 1999-2004 
f. Target
·        Tahun 2010: 80% 
g. Langkah Kegiatan
·        Pengadaan UKS kit
·        Perencanaan kebutuhan anggaran, logistik dan pelatihan.
·        Pelatihan petugas UKS puskesmas dan kab/kota
·        Pelatihan dokter kecil
·        Pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif)
·        Pencatatan dan pelaporan. 
4. Cakupan pelayanan kesehatan remaja 
a.      Pengertian 
1)      Pemeriksaan kesehatan remaja adalah pemeriksaan kesehatan siswa kelas 1 SLTP dan setingkat, kelas 1 SMU dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 SLTP dan Madrasah Tsanawiyah, kelas 1 SMU/SMK dan Madrasah Aliyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan kader kesehatan remaja secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan kader kesehatan remaja, penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan).
2)      Tenaga Kesehatan adalah tenaga medis, paramedis atau petugas Puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS.
3)      Guru UKS adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS.
4)      Kader Kesehatan Remaja adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 1 dan 2 SLTP dan setingkat, murid kelas 1 dan 2 SMU/SMK dan setingkat yang telah mendapatkan pelatihan Kader Kesehatan Remaja. 
b.      Definisi Operasional
Cakupan pelayanan kesehatan remaja adalah cakupan siswa kelas 1 SLTP dan setingkat, SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/kader kesehatan sekolah) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus 
Cakupan pelayanan kesehatan remaja

 
=
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + murid kelas 1 SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih


x 100 %
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + SMU/SMK dan setingkat
                        2)      Pembilang
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + Murid kelas 1 SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/kader kesehatan remaja) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + murid kelas 1 SMU/ SMK dan setingkat di wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. 
4)      Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + murid kelas SMU/SMK dan setingkat di Kabupaten A tahun 2003 adalah 6.000 orang.
Jumlah murid kelas 1 SLTP dan setingkat + murid kelas 1 SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatannya melalui penjaringan kesehatan 3.000 orang.
Cakupan = 3.000/6.000 x 100 % = 50 % 
d.      Sumber Data
1)      Catatan dan pelaporan hasil penjaringan kesehatan Laporan kegiatan UKS);
2)      Data Diknas/BPS setempat.
e.      Rujukan
1)      Buku Pedoman UKS untuk Sekolah Tingkat Lanjutan;
2)      Buku Pedoman Penjaringan Kesehatan. 
f.        Target
§         Target 2005: 15%
§         Target 2010: 80% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Pengadaan dan Pemeliharaan UKS Kit;
2)      Perencanaan kebutuhan anggaran, logistik dan pelatihan;
3)      Pelatihan petugas, guru UKS dan dokter kecil;
4)      Pelayanan Kesehatan;
5)      Pencatatan dan Pelaporan.
 
C.           Pelayanan Keluarga Berencana 
Cakupan peserta KB aktif 
a.      Pengertian
1)        Peserta KB Aktif (CU) adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan.
2)        Cakupan Peserta KB Aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif (CU) dengan Pasangan Usia Subur (PUS).
3)        Cakupan Peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para Pasangan Usia Subur (PUS). 
b.      Definisi Operasional
Cakupan peserta KB aktif  adalah cakupan peserta KB aktif dibandingkan dengan jumlah Pasangan Usia Subur di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
                            Cakupan                   =
                            peserta KB  aktif        
Jumlah peserta KB aktif (CU)
 x 100 %
Jumlah pasangan usia subur


2)      Pembilang
Jumlah PUS yang memperoleh pelayanan kontrasepsi sesuai standar di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
3)      Penyebut
Jumlah PUS di wilayah kerja dan kurun waktu yang sama. 
4)      Ukuran/Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah PUS yang memperoleh pelayanan kontrasepsi sesuai standar di Kabupaten A= 12.000 PUS.
Jumlah PUS di Kabupaten A= 15.000 PUS
Cakupan peserta aktif KB =  12.000 / 15.000 x 100 % = 80 %.  
d.      Sumber Data
1)       Hasil Pencatatan dan Pelaporan KB BKKBN;
2)       Hasil Pendataan BKKBN/ BPS setempat. 
e.      Rujukan
1)         Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi (BP3K);
2)         Panduan Baku Klinis Program Pelayanan KB;
3)         Pedoman Penanggulangan Efek Samping/Komplikasi Kontrasepsi;
4)         Pedoman Pelayanan Kontrasepsi Darurat;
5)         Penyeliaan Fasilitatif Pelayanan KB;
6)         Instrumen Kajian Mandiri Pelayanan KB;
7)         Panduan Audit Medik Pelayanan KB;
8)         Analisis Situasi & Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB;
9)         Paket Kesehatan Reproduksi. 
f.        Target
§         Target 2005: 60%
§         Target 2010: 80% 
g.      Langkah Kegiatan
1)      Pendataan Sasaran;
2)      Penyediaan Akses Pelayanan yang Berkualitas;
3)      Pemberian Pelayanan yang Berkualitas;
4)      Manajemen Kualitas Pelayanan :
·      Penyeliaan Fasilitatif;
·      Audit Medik;
·      Kajian Mandiri;
·      Quick Investigation of Quality (QIQ);
·      Manajemen Pengelolaan.
 
D.             Pelayanan imunisasi  
Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 
a.      Pengertian
1)   Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. (Undang-Undang Otonomi Daerah 1999).
2)   Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di daerah kabupaten. (Undang-Undang Otonomi Daerah 1999).
3)   UCI (Universal Child Immunization) ialah tercapainya imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan), ibu hamil, WUS dan anak sekolah tingkat dasar.
4)   Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis Campak. Ibu hamil dan WUS meliputi 2 dosis TT. Anak sekolah tingkat dasar meliputi, 1 dosis DT, 1 dosis campak, 2 dosis TT. 
b.      Definisi Operasional
Desa atau Kelurahan UCI adalah desa/kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. 
c.       Cara Perhitungan/Rumus
1)      Rumus
 Desa/Kelurahan  UCI   =  
 Jumlah desa / kelurahan UCI
 x 100 %

Seluruh desa / kelurahan
                2)      Pembilang
Jumlah desa/kelurahan UCI di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
3)      Penyebut
Seluruh desa/kelurahan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
4)      Ukuran / Konstanta
Persentase (%) 
5)      Contoh Perhitungan
Jumlah desa/kelurahan  UCI di Kabupaten/Kota X sebanyak 75 desa.
Jumlah desa di Kabupaten/Kota X sebanyak 90 desa.

Desa/kelurahan UCI di wilayah Kabupaten/Kota X = 75/90 x 100% = 83,3 % 
d.      Sumber Data
SIMPUS, SIRS, dan klinik. 
e.      Rujukan
Pedoman Operasional Program Imunisasi Tahun 2003, IM. 16 ( 3 buku).
f.        Target
§         Target 2005:   86 %
§         Target 2010: 100 % 
g.      Langkah Kegiatan
1.    Pengadaan dan Pemeliharaan rantai dingin;
§      Penerimaan / pengiriman vaksin.
§      Penyimpanan vaksin.
2.    Perencanaan penyiapan logistik;
§      Perhitungan kebutuhan vaksin.
§      Kebutuhan tempat penyimpanan vaksin.
§      Kebutuhan tempat pendistribusian vaksin.
§      Kebutuhan alat suntik ADS.
3.    Pelayanan Imunisasi;
§      Pengumpulan data sasaran.
§      Penggerakan sasaran.
§      Pelaksanaan imunisasi.
§      Pencatatan dan pelaporan.
4.    Penanganan KIPI.
§      Kunjungan lapangan.
§      Investigasi/pelacakan.
§      Perawatan rujukan.
§      Pemeriksaan laboratorium.
§      Pengkajian kasus tersangka KIPI.
§      Kebutuhan alat penenganan limbah.
 
E.   Pelayanan Pengobatan / Perawatan 
1.      Cakupan Rawat Jalan 
a.         Pengertian 
1)   Rawat Jalan adalah pelayanan keperawatan kesehatan perorangan  yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, rehabilitasi medik tanpa tinggal di ruang rawat inap pada sarana kesehatan.
2)   Cakupan rawat jalan adalah jumlah kunjungan kasus baru rawat jalan  di sarana kesehatan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun.
3)   Kunjungan pasien baru adalah seseorang yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan dengan kasus penyakit baru.
4)   Sarana kesehatan adalah tempat pelayanan kesehatan meliputi antara lain : rumah sakit pemerintah dan swasta, puskesmas, balai pengobatan pemerintah dan swasta, praktek bersama dan perorangan. 
b.         Definisi Operasional
Cakupan Rawat Jalan  adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.          Cara Perhitungan/Rumus 
1)   Rumus
 Cakupan             =
 Rawat Jalan       
 Jumlah kunjungan kasus baru Rawat Jalan di sakes dalam kurun waktu tertentu

x 100 %

Jumlah penduduk di satu wilayah dalam kurun waktu yang sama
                        2)   Pembilang
Jumlah kunjungan kasus baru rawat jalan di sarana pelayanan kesehatan dalam  kurun waktu tertentu. 
3)   Penyebut
Jumlah penduduk di satu wilayah kerja dalam kurun waktu  yang sama. 
4)   Ukuran/Konstanta
Persentase (%). 
5)   Contoh Perhitungan
Jumlah kunjungan pasien baru RJ di sarkes di Kab. A dalam kurun waktu 1 (satu) tahun : 52.800.
Jumlah penduduk Kab. A : 2.000.000 orang. 
Cakupan Rawat Jalan  =        52. 800          x 100 %   =  2,64 %                                                                                      2.000.000 
d.         Sumber Data
SIMPUS, SIRS, dan Rekam Medik. 
e.         Rujukan
Pedoman Puskesmas dan Rumah Sakit; 
f.           Target
      Target 2005 :  10 %
      Target 2010 :  15 % 
g.         Langkah Kegiatan
1)  Pendataan penduduk, sarana kesehatan, dan kunjungan ke sarana kesehatan;
2)   Peningkatan prasarana dan sarana kesehatan;
3)   Analisa kebutuhan pelayanan;
4)   Penyuluhan;
5)   Pelatihan SDM;
6)   Pencatatan pelaporan.
 
2.            Cakupan Rawat Inap 
a.    Pengertian 
1)     Rawat Inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan  yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap  di ruang rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta puskesmas perawatan dan rumah bersalin, yang oleh karena penyakitnya penderita harus  menginap.
2)     Penderita adalah seseorang yang mengalami / menderita sakit atau mengidap suatu penyakit.
3)     Fasilitas pelayanan kesehatan adalah Rumah Sakit baik milik pemerintah maupun swasta, dan Puskesmas. 
b.    Definisi Operasional
Cakupan Rawat Inap adalah Cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 
c.    Cara Perhitungan / Rumus
1)   Rumus
 Cakupan          =
 Rawat Inap        
Jumlah penderita rawat inap baru di sarkes dalam kurun waktu tertentu
 x 100 %

Jumlah penduduk dalam satu wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama
                     2)   Pembilang



PERTEMUAN
PENYAKIT-PENYAKIT KLB

A.   Pengertian
1.    Wabah
Merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dimasyarakat yang jumlah penderitanya secara nyata meningkat melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta menimbulkan mala petaka (UU N0 4, 1984).
2.    KLB
Merupakan timbulnhya atan meningkatnya kejadian keseakitan, kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (peraturan mentri kesehatan RI, No, 560/MENKES/PER/VII/1989).
B.   Kriteria KLB
Suatu kejadian penyakit dapat dikatakan KLB apabila memenuhi syarat sebagai berikut;
1.    Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada.tidak dikenal.
2.    Peningkatan kejadian penyakit /kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut penyakitnya.
3.    peningkatan kejadian penyakit 2 kali atau lebih disbanding dengan periode sebelumnya, (jam, minggu, bulan, tahun)
4.    jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukan kenaikan 2 kali atau lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata penularan dalam tahun sebelumnya.
5.    angka rata-rata perbulan selama satu tabun menunjukan kenaikan 2 kali lipat atau lebih jika dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya.
6.    Case fatality rate suatu penyakit dalam kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya.
7.    proporsional rate penderita baru dari suatu penyakit menular menunjukan kenaikan 2 atau lebih disbanding periode kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
  
C.   Penyakit menular potensial KLB
Penyakit-penyakit yang memerlukan kewaspadaan ketat dan merupakan penyakit wabah atau potensi wabah atau yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa sesuai dengan undang-undang wabah tahun No 4 tahun 1984 yaitu : Pes, kolera, demam bolak balik, demam kuning, DHF, campak, difteri, rabies, pertusis, polio mielitis, malaria, influenza, antraxs, hepatitis, typus abdominalis, typus bercak wabah, meningitis, enchepalitis.
Sesuai dengan perkembangan penyakit maka termasuk golongan penyakit potensial wabah adalah : SAR, flu burung, HIV/AIDS, keracunan.
Jika ada wabah/KLB dilaporkan dalam waktu 24 jam dengan mengunakan formulir W1. kemudian KLB atau wabah yang berlangsung juga dilaporkan dengan laporan mingguan dengan form W2.

D.   Tata cara pelaporan KLB
1.    Dilaporkan dalam 24 jam
Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan menyampaikan laporan adalah:
a.    Orang tua penderita atau tersangka penderita yang tinggal serumah dengan penderita kepada kepala RT/RW/kepala dusun
b.    Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa penderita.
c.    Kepala unit pemerintah atau swasta
d.    Nahkoda kendaraan air atau udara.
Laporan kewaspadaan disampaikan kepada lurah atau unit kesehatan terdekat selambat-lambatnya 24 jam sejak mengetahui adanya penderita baik dengan cara lisan maupun tulisan. Kemudian laporan tersebut harus diteruskan kepada kepala puskesmas setempat.
Isi laporan kewaspadaan adalah:
a.    nama penderita /penderita yang meninggal
b.    golongan umur
c.    tempat dan alamat kejadian
d.    jumlah yang sakit dan meninggal

2.    Laporan kejadian luar biasa (W1) dilaporkan dalam waktu 24 jam
Merupakan salah satu laporan kewaspadaan yang dibuat unit kesehatan, segera setelah mengetahui adanya KLB penyakit tertentu/keracunan makanan. Laporan ini digunakan untu melaporakan KLB sebagai laporan pengamatan dini kepada pihak-pihak yang menerima laporan akan adanya KLB penyakit tertentu disuatu wilayah tertentu. Laporan ini harus memperhatikan asan dini, tepat, cepat, dapat dipercaya dan bertanggung jawab yang dapat dilakukan dengan lisan dan tulisan. Unit kesehatan yang membuat laporan adalah puskesmas, dinas kesehatan kabupaten/kota dan dinas kesehatan provinsi dengan berpedoman pada laporan KLB W1.

3.    Dilaporkan mingguan
Laporan mingguan wabah (W2) merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini KLB yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan (puskesmas). Sumber data laporan mingguan adalah data rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu dan masyarakat dan rumah sakit pemerintas atau swasta. Sikap waspada terhdap penyakit potensial KLB ini juga diikuti oleh siaga TIM professional logistik dan cara penanggulangan termasuk sarana komunikasi dan administrasi.


E.   Langkah-langkah penyidikan KLB
1.    Persiapan
a.    Konfirmasi informasi
Informasi yang didapat kadang-kadang tidak lengkap bahkan tidak jelas, untuk itu diperlukan upaya konfirmasi tentang kejelasan informasi.
-          Sumber informasi dapat diperoleh dari masyarakat baik lisan maupun tulisan dan fasilitas kesehatan.
-          Gambaran tentang kasus meliputi gejala, pemeriksaan yang dilakukan untuk diagnosis dan hasil konfirmasi ada tidaknya komplikasi, kecacatan, kelumpuhan bahkan kematian.
-          Situasi geografi dan sarana transportasi yang ada.
b.    Pembuatan rencana kerja
Kegiatan ini meliputi;
1.    Definisi kasus
Definisi kasus sangat berguna untuk mengarahkan pencarian kasus, paling baik ditentukan berdasarkan hasil konfirmasi laboratorium. Perumusan diagnosis kasus dalam kalimat yang jelas merupakan hal yang penting oleh karena itu akan menjadi pedoman bagi tim penyelidikan lapangan dalam penemuan kasus.
2.    Hipotesis mengenai penyakit, penyebab, sumber dan cara penularan.
3.    data /informasi yang diperlukan misalnya jumlah kasus, jumlah penduduk, kebiasaan penduduk, data lingkungan.
4.    cara memperoleh data/ informasi
kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengunakan data fasilitas pelayanan kesehatan, mencari informasi di instansi non kesehatan, dan melalui survey di masyarakat.
5.    Tim dan sarana yang diperlukan sesuai dengan jenis KLB, misal sanitasi, entomolog, analis dll


2.    Pelaksanaan
a.    Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis dilakukan dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari tanda dan gejala yang ditemukan pada kasus dengan membuat daftar gejala yang ada pada kasus dan menghitung persentasenya. Susunan berdasarkan pada frekuensi gejala dan tanda penderita kemudian dicocokan dengan tanda dan gejala klinis penderita penyakit tertentu, sehingga kejadian ini dapat dikelompokan menjadi kasus atau bukan.
Penentuan laboratorium diperlukan untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan type prganisme penyebab sakit serta pengobatan yang cepat dan tepat.
b.    Penentuan KLB
Penentuan KLB bertujuan menetapkan apakah kejadian tesebut merupakan KLB atau bukan, dilakukan dengan membandingkan insiden penyakit yang telah berjalan dengan insiden penyakit dalam keadaan biasa pada populasi yang berisiko pada tempat dan waktu tertentu.
Hal ini dapat dilakukan dengan melihat pola maksimum dan minimum 5 tahunan atan 3 tahunan, membandingkan penyakit pada minggu.bulan/tahun sebelumya. Untuk memastikan KLB sebaiknya dilakukan pola analisis secara komperhensif tidak hanya kasus tetapi termasuk informasi fektor, lingkungan dan prilaku penduduk.
c.    Identifikasi kasus dan paparan
Identifikasi kasus yang paling baik adalah berdasarkan hasil konfirmasi laboratorium, namun demikian berdasarkan gejala klinis dapat dipakai sebagai identifikasi kasus di lapangan saat penyidikakan. Identifikasi paparan dapat ditentukan melalui analisis kurva epidemic sehingga dapat diperkirakan indeks kasus (siapa yang pertama kali terkena) dan waktu paparan (kapan penularan itu terjadi).
Informasi yang penting adalah landasan teori tentang cara penularan penyakit. Identifikasi paparan akan membantu mengidentifikasi penularan serta membantu mendiagnosa dengan lebih baik.
d.    Diskripsi menurut orang, tempat, dan waktu
Dari hasil pengumpulan data penderita kemudian dikelompokan. Pengelompokan menurut tempat mengambarkan dimana mereka terkena, yang perlu mengelompokan tidak harus tempat tinggal, bisa sekolah, tempat kerja, desa atau kota, gunung dan pantai dll.
Pengelompokan berdasarkan orang seperti umur, sex, jenis kelamin, jenis pekerjaan, perilaku.
e.    Merumuskan hipotesis
Setelah di ketahui adanya laporan kemudian diambil hipotesis dengan merujuk teori yang telah ada.








SURVEILANS

Pengantar
Berdasarkan cara pengumpulan data, sistem surveilans dapat dibagi menjadi:
1. Surveilans aktif
Pada sistem surveilans ini dituntut keaktivan dari petugas surveilans dalam mengumpulkan data, baik dari masyarakat maupun ke unit-unit pelayanan kesehatan. Sistem surveilans ini memberikan data yang paling akurat serta sesuai dengan kondisi waktu saat itu. Namun kekurangannya, sistem ini memerlukan biaya lebih besar dibandingkan surveilans pasif.

2. Surveilans pasif
Dasar dari sistem surveilans ini adalah pelaporan. Dimana dalam suatu sistem kesehatan ada, ada sistem pelaporan yang dibangun dari unit pelayanan kesehatan di masyarakat sampai ke pusat, ke pemegang kebijakan. Pelaporan ini meliputi pelaporan laporan rutin program serta laporan rutin manajerial yang meliputi logistik, administrasi dan finansial program (laporan manajerial program).

Pengertian sistem surveilans
Sistem surveilans merupakan kegiatan terus menerus yang meliputi pengumpulan data, analisis dan interpretasi, dan diseminasi yang digunakan untuk perencanaan, implementasi, dan evaluasi kebijakan. WHO mendefinisikan surveilans sebagai suatu kegiatan sistematis berkesinambungan, mulai dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data yang untuk selanjutnya dijadikan landasan yang esensial dalam membuat rencana, implementasi dan evaluasi suatu kebijakan kesehatan masyarakat. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat efektif bila didukung oleh sistem surveilans yang efektif, karena fungsi sistem surveilans yang utama adalah menyediakan informasi epidemiologis yang peka terhadap perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit yang menjadi prioritas pembangunan. Surveilans dapat digunakan untuk menentukan prioritas, kebijakan, perencanaan, pelaksanaan dan penggerakan sumber daya program pembangunan kesehatan, serta prediksi dan deteksi dini kejadian luar biasa. Surveilans juga dapat digunakan untuk monitoring dan evaluasi, sehingga surveilans menjadi alat dalam mengambil keputusan masalah kesehatan. Selain itu data yang dihasilkan sistem surveilans dapat digunakan untuk menilai faktor risiko dan juga faktor kausal dari suatu penyakit, dengan demikian melalui sistem surveilans timbulnya penyakit baru dapat teridentifikasi.

Komponen sistem surveilans
Kerangka konsep system surveilans-respon yang dikembangkan oleh WHO adalah sebagai berikut;
Gambar  Kerangka Konsep Sistem Surveilans-respon WHO

Terdapat 4 sub kelompok besar yang berada dalam sistem surveilans, adapun kelompok tersebut antara lain struktur surveilans, fungsi pendukung surveilans, fungsi pokok surveilans dan mutu surveilans.
Materi yang dikembangkan dalam kegiatan penyusunan sistem surveilans di dinas kesehatan Provinsi dan Kabupaten meliputi; pengertian sistem surveilans respons, perjalanan alamiah penyakit, pembentukan unit pendukung sistem surveilans, sumber daya untuk unit pendukung surveilans (tenaga fungsional), sistem penganggaran untuk unit pendukung surveilans, dan peningkatan kemampuan petugas surveilans dalam penyidikan kejadian luar biasa.

Sasaran sistem surveilans
A.   Sasaran Penyelengaraan Sistem Surveilans Respon 
Sasaran penyelengaraan sistem surveilans kesehatan meliputi masalah-masalah yang berkaitan dengan perogram kesehatan yang ditetapkan berdasarkan prioritas yang ditetapkan secara nasional, bilateral, regional, penyakit potensial wabah, bencana dan komitmen lintas sektoral (KepMenKes, 2003).
1.      Surveilans Penyakit Menular
1.    Surveilans Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
2.    Surveilans AFP
3.    Surveilans Penyakit Potensial Wabah dan keracunan
4.    Surveilans Penyakit demam berdarah dan demam berdarah dengue.
5.    Surveilans Malaria
6.    Surveilans Penyakit-penyakit zoonosis, antraks, rabies, leptospirosis.
7.    Surveilans Penyakit Filariasis
8.    Surveilans Penyakit Tuberkulosis
9.    Surveilans penyakit diare, tipus perut, kecacingan dan dan penyakit perut lainya.
10. Surveilans penyakit kusta
11. Surveilans penyakit frambusia
12. Surveilans penyakit HIV/AIDs
13. Surveilans penyakit menular lainya
14. Surveilans penyakit pneumonia, termasuk penyakit penemonia akut berat.

2.      Surveilans Penyakit Tidak Menular
1.    Surveilans hipertensi, stroke dan jantung koroner
2.    Surveilans diabetes militus
3.    Surveilas neoplasma
4.    Surveilans penyakit paru obstruksi kronis
5.    Surveilans gangguan mental
6.    Surveilans kesehatan akibat kecelakaan

3.      Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkugan dan Prilaku
1.    Surveilans sarana air bersih
2.    Surveilans tempat-tempat umum
3.    Surveilans penmukiman dan lingkungan perumahan
4.    Surveilans limbah industri, rumah sakit dan kegiatan lainya.
5.    Surveilans vektor penyakit
6.    Surveilans kesehatan dan keselamatan kerja
7.    Surveilans rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainya, termasuk infeksi nosokomial.

4.      Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
1.    Surveilans gizi dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPD)
2.    Surveilans gizi mikro kurang zodium, anemia gizi besi, kekurangan vit A.
3.    Surveilans gizi lebih
4.    Surveilans kesehatan ibu dan anak termasuk reproduksi
5.    Surveilans kesehatan lanjut usia
6.    Surveilans penyalah gunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya.
7.    Surveilans pengunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional, bahan kosmetika, serta peralatan.
8.    Surveilans kualitas makanan dan bahan tambahan makanan.

5.      Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra
1.    Surveilans kesehatan haji
2.    Surveians kesehatan pelabuhan dan lintas batas perbatasan
3.    Surveilans bencana dan masalah sosial
4.    Surveilans kesehatan matra laut dan udata
5.    Surveilan kejadian luar biasa penyakit dan keracunan

REVIEW DAN LATIHAN SOAL


Kasus 1
Kecamatan A merupakan daerah yang penduduknya sekitar 2500 orang dengan mempunyai pekerjaan tetap sebagai petani. Kecamatan A terdiri dari 9 desa diwilayah kerja kecamatan A. Pada suatu waktu di bulan januari beberapa penduduk yang tinggal di daerah tersebut banyak mengalami gangguan kesehatan yaitu panas tinggi disertai nyeri sendi.

Pertanyaan
1.    Berdasarkan kasus diatas buat perjalanan penularan penyakit dari desa satu ke desa lainnya.
2.    berdasarkan kasus diatas buat indek case untuk setiap desa yang terjangkit. 

Kasus 2
Suatu puskesmas kesulitan dalam pelaporan data ke dinas kesehatan karena petugas puskesmas tidak paham mengenai sistem pelaporan data ke dinas kesehatan. Data yang dilaporkan ke dinas keshatan meliputi laporan penyakit-penyakit yang menimbulkan kejadian luarbiasa dan penyakit-penyakit yang wajib lapor.
Pertanyaan
  1. sebutkan komponen-komponen dalam sistem surveilans
  2. Gambar mekanisme alur pelaporan data dari puskesmas ke dinas kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar